Agak mainstream
sepertinya untuk menonton The Amazing Spiderman di awal-awal muncul. Tapi semakin
ditahan untuk tidak menonton, semakin penasaran. Anyway, memang filmnya tidak
mengecewakan.
Jujur saja,
saya bukan penggemar sekuel Spiderman, sehingga tidak mengikuti kisah
perjalanan sang superhero dari film Spiderman 1, 2, dan 3. Namun, yang saya
tahu memang The Amazing Spiderman ini agak lain dari sekuel sebelumnya.
Benar,
sekuel Spiderman kali ini berbeda. Lihat saja pemeran utama yang kita kenal Spiderman/Peter
Parker, kini diperani oleh Andrew Garfield. Sementara kekasihnya, Gwen Stacy,
diperankan oleh Emma Stone. Bukan pilihan yang salah menempatkan mereka berdua
sebagai pemeran utama karena mungkin sebagian orang yang bukan fanatiknya
Spiderman butuh wajah-wajah yang lebih segar dari Tobey Maguire dan Kristent
Dunst.
Jalan cerita
tak jauh berbeda. Peter Parker kecil sudah harus ditinggal orang tuanya dengan
alasan pekerjaan dan dititipkan pada paman dan bibinya. Beranjak dewasa, kisah
hidup Peter tak melewatkan romansa remaja. Ia jatuh cinta pada teman sekelasnya
yang pintar, Gwen Stacy.
Cerita seru
dimulai dari Peter yang menemukan tas peninggalan ayahnya dan berisi sesuatu
kode algoritma (saya juga sebenarnya tidak tahu itu apa, yang jelas berisi
rumus dan angka). Rasa penasaran membawa Peter mengunjungi Oscorp (saya
menangkap bahwa oscorp ini adalah industry sains). Di sinilah ternyata Peter
bertemu kembali dengan Gwen yang ternyata bekerja sebagai kepala magang untuk
mahasiswa. Juga mulai diperkenalkan Dr. Curt Connors, sahabat ayah Peter, si
tangan buntung, dan si musuh (begitu cara saya menyebutnya).
Dr.
Curt Connors sebenarnya ilmuwan pintar,
namun berhati semi jahat. Mengapa? Dia pintar, teorinya yang ingin
menyamaratakan semua manusia di bumi dengan cara mengubah manusia menjadi
makhluk yang lebih kuat. Parahnya, manusia akan dijadikan manusia-kadal
(percampuran genetika manusia dan kadal. Memang kuat, namun agresif dan
cenderung destruktif).
Kembali
lagi, di Oscorp pula Peter digigit oleh laba-laba yang ditemukan di suatu
laboratorium. Seperti film Spiderman 1, langsung “sesuatu” terjadi pada diri
Peter (namun, efek di film ini lebih lebay sepertinya). Begitu pula cerita
paman Peter yang tewas terkena tembakan sang pencuri cukup mirip dengan film
pioneer-nya.
Nah, konflik
dimulai ketika Peter si Spiderman ternyata justru menjadi incaran polisi kota. Lucunya,
“ketua gank” polisi itu adalah ayahnya Gwen (lumayan dramatis ya -_-). Dalam aksi
menyelamatkan beberapa kerusuhan, tetap saja Spiderman dipandang negative oleh
polisi. Sampai akhirnya, saat melawan Dr. Connors yang telah merubah dirinya
sebagai makhluk kuat yaitu manusia-kadal yang menyerang warga New York.
Tentu,
makhluk besar itu meresahkan warga dan merepotkan polisi. Spiderman tidak
tinggal diam karena dia yang bertanggung jawab atas hal ini terjadi. Dialah yang
memberi rumus untuk percobaan Connors. Ternyata, Connors telah mempersiapkan
formula yang siap diluncurkan dan akan mengakibatkan manusia berubah menjadi
manusia-kadal. Dengan pertarungan sengit, dibantu oleh Gwen yang memberikan
formula penetralisir racun-manusia-kadal, akhirnya Dr. Connors kalah. Satu kejadian
yang tak terduga adalah “ketua gank” polisi a.k.a ayahnya Gwen tewas karena
sempat bertarung dengan si manusia-kadal. Namun ia telah tahu bahwa Spiderman
adalah kekasih anaknya.
Ya,
itulah resume singkat film fenomenal akhir-akhir ini. Singkatnya, saya merasa
cukup puas dengan filmnya. Walaupun kalau saya bilang, ini adalah film
re-branding dari Spiderman 1, namun saya tidak dapat menilai mana yang lebih
baik/buruk karena keduanya memiliki sudut pandang berbeda. Bagaimana pendapatmu?
J

Komentar
Posting Komentar