Siapa yang tidak kenal Jalan Braga? Salah satu jalan di Kota Bandung yang menyimpan banyak cerita sejarah. Tidak hanya warga Bandung yang kenal dengan jalan sepanjang 600 meter ini, namun wisatawan dari kota lain bahkan mancanegara pun tau dan kenal dengan Jalan Braga.
Tak ubahnya jalan-jalan lain, sepanjang Jalan Braga pun dihiasi oleh pertokoan dan cafe. Bahkan sekarang sudah ada sebuah pusat perbelanjaan modern, yaitu Braga City Walk (BCW). Lucu memang, ketika melihat sebuah bangunan modern di tengah-tengah bangunan kuno.
Indahnya Jalan Braga menjadikan jalan ini sebagai “primadona” di Bandung. Dahulu, Braga berhasil menjadi pusat pertokoan nomor satu di Bandung. Tahun 1870, Braga dikenal sebagai kawasan wisata elit. Maka dari itu, Braga dulu dikenal dengan sebutan Paris van Java. Ibaratnya sekarang, Braga adalah “Cihampelas-nya” Bandung (sekarang).
Karena merupakan “warisan” zaman Belanda, maka tak heran model bangunan di sepanjang Jalan Braga berbau arsitektur Eropa. Terkesan tua, namun memang menarik apabila dibandingkan gedung-gedung biasa. Inilah yang menjadi ciri khas Braga dengan jalan-jalan lainnya. Buktinya, banyak orang yang sengaja berfoto-foto di sepanjang jalan Braga. Sekilas mungkin mirip seperti di luar negeri.
Namun seiring berjalannya waktu, Braga merubah wajahnya. Jalannya yang dulu beraspal diganti menjadi jalan berbatu andesit. Hal tersebut mengesankan bahwa Braga adalah suatu kawasan yang perlu dirawat dan dilestarikan. Pemkot Bandung merevitalisasi Jalan Braga untuk menghidupkan kembali ikon Bandung sebagai kawasan wisata. Karena memang disayangkan, Braga yang memang bertahan dengan gayanya yang oldie harus bersaing dengan tempat-tempat wisata yang modern.
Braga dulu dan kini jelas berbeda. Apa perbedaannya? Jelas, kalau saja ada foto Braga dulu dan jaman sekarang, terlihat jelas perbedaan antara kuno dengan modern. Seiring dengan perjalanan waktu, kejayaan Jalan Braga lambat laun mulai meredup. Kalau Braga masih begitu-begitu saja, ya mungkin orang-orang sudah bosan dan ingin mencari sesuatu yang segar. Namun apa daya, Braga adalah situs sejarah yang memang harus dijaga. Kalau mau sama dengan tempat wisata modern lainnya, apa kabar dengan keaslian Braga? Justru harusnya, titik daya tariknya adalah keaslian Braga.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah mulai dari bangunan. Dari sekitar 150-an bangunan yang ada, tinggal 50 persen saja yang masih berwajah asli. Sementara 25 persen lainnya telah direnovasi menurut selera modern. Yang ironis, 25 persen lainnya justru dibiarkan terbengkalai. Tercatat sekitar 25 gedung yang kini seakan tak bertuan lagi. Prihatin memang, bangunan-bangunan saksi bisu sejarah kini sudah tak terawat lagi.
Salah satu yang pasti diingat oleh hampir semua orang yang telah berkunjung ke Braga ialah penjual lukisan. Memang, sepanjang Jalan Braga, tak dapat terhitung berapa banyak penjual lukisan di sana. Namun tetap saja sepi dari pengunjung. Mereka telah lama beroperasi di sana. Seperti hidup enggan, mati tak mau mereka bertahan di Braga.
Tidak hanya pertokoan kuno, restoran, dan penjual lukisan saja yang turut meramaikan jalanan ini. Pada siang hari, tempat ini memang tak tercium keberadaannya. Namun pada sore hari menjelang malam, mulailah tampak tempat ini berbenah diri. Ya, apalagi kalau bukan tempat hiburan malam. Inilah yang membuat pamor Braga menjadi kian buruk. Ditambah lagi dengan laporan prostitusi yang kerap dilakukan di sana.
Sudah banyak orang yang mengenal Braga dengan kehidupan malamnya, bukan karena sejarahnya. Lampu-lampu gemerlap yang terpancar dari dalam cafe, bodyguard nakal yang menjaga tempat karaoke, dan adanya taxi kalong, inilah yang kerap menghiasi Braga sekarang. Kalau sekarang, saat kita bertanya seputar Braga, banyak orang akan menjawab tentang kehidupan malamnya, bukan mengusung sejarahnya.
Coba kalau kita perhatikan pergeseran yang terjadi dengan Braga. Image Braga sebagai jalan penuh sejarah dan keindahan, kini dikenal dengan jalan “remang-remang” akibat berkeliarannya wanita-wanita malam. Sungguh memprihatinkan, Braga yang harusnya menjadi heritage mengalami distorsi nilai. Seolah-olah ternodai oleh keburukan.
Sayang ya, situs sejarah yang seharusnya dijaga dan dirawat serta dipertahankan sebagai salah satu obyeek wisata itu kini tak lagi harum namanya. Dahulu, orang-orang sudah berhasil membangun Braga sebagai primadona Bandung dengan keindahan dan sebagai pusat pertokoan elit. Namun sekarang, riwayat Braga kian memprihatinkan. Seolah tak ada lagi yang peduli pada dirinya. Pemerintah sibuk dengan urusan lain, wisatawan lebih tertarik dengan tempat wisata lain, dan warga sekitar? Mungkin sibuk juga dengan urusan tokonya masing-masing. Mereka sibuk menghidupkan usahanya tanpa berusaha menghidupkan pula Braga.
Mungkin Braga mencoba untuk lebih modern. Seperti yang telah disebut tadi, dengan adanya Braga City Walk yang nyempil di antara bangunan kolot, harusnya memberikan kesegaran tersendiri bagi Braga. BCW harusnya menjadi attention getter untuk Jalan Braga. Namun sepertinya fasilitas BCW belum selengkap pusat perbelanjaan lain.
Sebenarnya kawasan Jalan Braga ini masih memiliki nama besar untuk dikembangkan sebagai obyek pariwisata. Dengan syarat penataan ulang harus dilakukan di kawasan ini. Nah, hal ini selaras dengan ancang-ancang pemerintah setempat yang akan menjadikan Braga sebagai art district, atau pemberdayaan Braga sebagai kawasan seni yang mengutamakan keindahan dan kenyamanan.
Kita sebagai masyarakat harus turut mengawasi, supaya perubahan fungsi tersebut tidak melenceng dari norma-norma agama, syukur-syukur bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pelanggaran-pelanggaran norma yang sudah terjadi sekarang agar kawasan ini menjadi lebih diperhatikan lebih aman , tentram , bersih dari prostitusi.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan demi menata Braga? Pohon-pohon dilakukan reboisasi, Gedung-gedung harus dilakukan perawatan secara berkala, jalan braga perkerasan nya diperbaiki dan larangan masuknya kendaraan bermotor untuk mengurangi perusakan jalan dan polusi, tempat sampah yang diperbanyak dan pengemis ditertibkan. Apalagi braga saat ini dalam rencana untuk dijadikan art district, sudah semestinya dibenahi dan dijaga kondisinya sebaik mungkin oleh semua pihak.
Efektif atau tidaknya, hal ini bergantung dari semua pihak. Apakah setuju dan mendukung atau tidak. Namun, asal diawasi dengan teliti oleh para LSM, pelaksanaannya pasti akan berhasil. Resapan air disini sangat kurang efektif, apalagi dengan mengganti Jalan Braga dengan batu andesit, daya serap air nya semakin berkurang. Mungkin memang seharusnya jalan ini direnovasi ulang, meskipun membutuhkan dana yang banyak . Tetapi ini demi mencegah adanya banjir , apalagi sampah berserakan dimana-mana.
Maka dari itu, diperlukan kontribusi nyata dari semua pihak, khususnya warga dan pemerintah Kota Bandung. Bagaimana caranya agar popularitas Braga tetap terjaga, tanpa menghapus esensi sejarah dan tidak ketinggalan zaman.
(luruskan jika salah) Ini model tulisan yang disebut feature, bukan? Wah, Sab. Kau bisa jadi penulis yang bernafas panjang. maksudku, kau mampu menulis dengan panjang nyaris tanpa kehilangan konsistensimu. Tulisanmu ini bisa jadi tulisan bergaya investivigasi yang okay. misalnya, untuk menguak dunia malam Bandung. cuma, akan lebih asyik jika kau tidak menegaskan sisi tempat kau berdiri alias netral (walaupun agak naif juga jika bicara soal kenetralan). Dengan begitu, tulisanmu akan lebih kaya sudut pandang.
BalasHapusbang yogi makasih komentarnya. iya ini feature news, ini salah satu tugasku pas semester tiga hehehe.
BalasHapus