Langsung ke konten utama

Sinopsis Novel "...And A Hard Rain Fell"

... and a Hard Rain fell adalah sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata seorang veteran Perang Vietnam asal negeri Paman Sam bernama John Ketwig. Novel ini mengisahkan bagaimana suasana Ketwig dalam menjalankan tugas seorang tentara dalam berperang. Sedih, marah, susah, tawa, canda, pesta minuman, roko ganja,  wanita, dan seks, barangkali dapat mewakili apa-apa saja yang terjadi dalam kehidupan tentara Amerika tersebut.
            Setelah lulus SMA, Ketwig mendapatkan sejumlah beasiswa di berbagai universitas, namun kecintaan pada drum dan kenyamanannya ketika belajar injeksi bahan bakar daripada aljabar, membuat ia memilih bekerja sebagai mekanik yang mengutak-atik mobil di tempat penjualan mobil Chevy. Lucunya, ketika ia disuruh memotong rambut oleh boss, Ketwig menolak dengan alasan tidak ada drummer memotong rambut gondrongnya. Dia bersikeras hingga keluar dari pekerjaannya dan bekerja di tempat penjualan mobil lain ketika dipanggil untuk pemeriksaan fisik pra-induksi (sebelum masuk kemiliteran).
            Dalam hati, Ketwig menolak menjadi tentara yang bergelut dengan dunia kemiliteran. Hasil tes fisik yang tak terlalu baik tidak membuat ia tenang karena perkiraannya, tidak mungkin ia diberangkatkan menjadi seorang tentara ke Vietnam. Namun hipotesis ia selama ini salah, “selama masih dapat bernapas dan berjalan, maka pergilah” begitu kira-kira prinsip para inspektur. Jadi, mau tidak mau ia dituntut untuk pergi ke Vietnam.
            Berhari-hari ia dilanda konflik batin. Dia bimbang antara berangkat apa tidak ke Vietnam. Namun setelah berdiskusi dengan beberapa orang, mereka menyuruh Ketwig mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Pada akhirnya dia mendaftar juga, walaupun ia merasa dipersiapkan untuk mati. Hari-hari ia lewati, dan keluarga pun memberi support yang bisa dibilang berlebihan.
            Tibalah hari di mana Ketwig akan mengikuti pelatihan dasar di camp dengan pelatihan dari para inspektur/DI ( Drill Instructor). Hari-hari yang ia lewati di camp itu terasa lambat. Ia menemukan beberapa teman sependeritaannya. Perlakuan kasar sang DI, hinaan/pelecehan, peraturan ketat anti pelanggaran, dan hukuman menjadi santapannya selama beberapa hari hingga datanglah hari ketika Ketwig mengambil “jurusan” Wheel and Track Vehicle Repair sesuai minatnya.
            Sudah saatnya Ketwig “dilempar” ke tujuan awal, Vietnam. Dia merasa bekal yang diberikan di camp belum mantap dan ada perasaan takut akan ketidakmampuan bertahan dalam perang. Setibanya di sana, ia disambut tidak baik oleh para VC (Viet Chong), para manusia terkutuk di Vietnam, juga charley (sebutan untuk musuh). Bagaimanapun dalam beberapa hari pertama ia mengalami crisis stage akibat culture shock. Perbandingan besar antara kehidupan bebasnya Amerika dengan keharusan bertugas sekaligus bertahan hidup di Vietnam membuat Ketwig sangat kacau, ditambah lagi “rumah”nya kini hanya tenda terpal dan ditemani tikus-tikus jijik.
            Semakin hari, Ketwig makin dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup yang baru dalam hal makanan, pekerjaan, dan jam istirahat yang irit. Tetapi ia sukar membiasakan diri dengan dentuman yang sewaktu-waktu mengejutkannya. Dia masih terlalu khawatir dan memikirkan bagaimana ia akan mati dalam waktu dekat dan bagaimana apabila ia tak sengaja membunuh rekan kerjanya. Untuk membunuh kerinduan pada kampung halaman, Ketwig selalu mengabari keluarganya melalui surat dan selalu mendapat balasannya pula. Dalam suratnya, ia tidak ingin orang tuanya mengetahui ketakutan dirinya dan selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
            Ketika seorang sersan satu meminta sukarelawan pergi ke Dak To (tempat kritis yang sedang memanas), Ketwig mendaftarkan diri. Ini semata-mata karena dorongan hatinya. Kepandaiannya dalam bidang mesin dan mobil membuat ia bertualang sebagai pengendara truk perang. Dalam petualangannya, ia menyaksikan sendiri kacaunya peperangan di Dak To.
            Akhirnya ia kembali ke medan perang sebelumnya dan melewati proses mekanis di tempat itu. Ia menjadi orang berbeda yang berusaha mengabaikan Dak To. Dalam pekerjaannya, ia juga masih dapat mendapati pelacur-pelacur penjaja kenikmatan dunia dan bercinta dengannya. Juga kalau sempat ia menikmati pesiarnya ke kota dan membeli keperluannya. Suatu hari, ketika ia sedang pesiar, dia melihat anak kecil yang polos mengemis di depan gedung DPR berlapis emas. Dari sinilah mata hatinya terbuka. Ia tidak menyesali kepergiannya ke Vietnam. Dia bertekad menyudahi peperangan dan mengibarkan bendera perdamaian. Karena tidak seharusnya masalah perang yang disoroti, tetapi masih ada “kerikil-kerikil kecil” yang terlebih dulu dibenahi. Yaitu masalah kesenjangan sosial yang begitu kentara di Vietnam.
            Natal dan tahun baru ia lewati seadanya, tanpa kemewahan. ia bersyukur sejauh ini dewi fortuna berpihak padanya. Lolos dari serangan gelombang manusia, tidak tertembak ataupun menembak temannya. Ketwig pun tidak lupa beribadah gereja untuk kebutuhan spritualnya.
             Kehidupan Ketwig selama itu tidak jauh dari penyerangan gelombang manusia yang datang tiba-tiba lalu mengawasinya, bau mesiu tercium sangat kuat, hingga bertemu mayat-mayat. Tapi ia masih dapat tertawa bersama rekannya, kadang mereka bercanda dalam tenda pada malam hari, membuat permainan aneh seperti “kentut malam jumat”. Ya, setidaknya dapat menetralkan syaraf yang tegang.
            Walaupun dalam tugas, para tentara memiliki hak R and R (rest and recreation). Ketwig memilih Penang sebagai tempatnya berlibur. Di sana ia menikmati ketenangan dan kemodernan hidup, serta berkencan dengan seorang wanita.
            Hanya lima hari Ketwig merasakan kebebasan, lalu ia kembali ke Pleiku, melanjutkan tugasnya, tetapi pikirannya masih di Penang. Ia mengenang moment indah di sana dan berniat menikahi Lin, gadis yang ia kencani. Hari-hari setelah R and R berlalu dengan segala penderitaan. Para tentara telah mati rasa oleh rasa takut, teror, dan kengerian, tentu mereka menginginkan semua berakhir.
            Hari-hari penderitaan di Vietnam akan segera berkahir. Namun tak disangka, Ketwig mendaftar untuk tugas dinas di Thailand. Apa alasannya? Alasannya ialah ia merasa akan ada perang saudara yang terjadi di negara asalnya, ia memilih untuk menunaikan kewajiban militer di Thailand, sehingga ia tidak akan berhadapan dengan orang-orang Amerika yang memprotes perang. Permohonan Ketwig pun dikabulkan oleh sang letnan. Bergegaslah ia berangkat ke Saigon untuk mengurus paspornya. Di Saigon, ia berkesempatan menelepon ibunya dengan perasaan mengharu-biru, ia menceritakan pengalamannya selama ini dan memberi tahu bahwa ia akan pidah tugas ke Thailand. Setelah menghubungi ibunya, Ketwig ada perasaan lega. Tetapi kesialan menimpanya saat ia berada di bar hotel yang diinapinya. Dompet Ketwig dicopet seorang perempuan dan sulit ditemukan.
            Ketika ia kembali ke Pleiku dan persiapan perpindahan semakin dekat, musibah datang lagi, kali ini ia tertimpa benda besar yang membuat punggungnya sakit dan mengharuskan diperiksa di rumah sakit. Maka pergilah Ketwig ke rumah sakit terdekat. Dan betapa mirisnya ketika ia melihat korban perang yang ada di sana. Dimulai dari anak kecil yang melepuh sebagian besar tubuhnya akibat bom napalm, orang dewasa yang kehilangan anggota tubuhnya. Ketwig sedikit merasa bersalah karena tidak seharusnya ia ikut menjadi tentara dalam konflik ini dan juga berpikir mengapa “War College” itu ada sedangakan “Peace College” tidak pernah ditemukan. Dampakn perang begitu besar sekalipun pada orang-orang tidak bersalah.
            Hari demi hari berlalu dan tiba saatnya menunggu waktu pulang. Tetapi dalam tiga puluh hari terakhir, justru serangan makin menggila. Ketwig kini berbeda dengan dulu. Kini dia lebih berani, bertanggung jawab, dan cekatan dalam bertugas. Ia berani bertaruh nyawa saat itu walaupun dengan landasan nekat. Akhirnya ketegangan menyusut, tibalah seminggu lagi bagi Ketwig untuk pindah tugas ke Thailand maka ia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia mengurangi minuman keras dan rokok serta memperbanyak waktu istirahat.
            Ketwig sungguh bersyukur karena dia dapat melewati 365 hari di Vietnam dengan selamat bahkan tanpa goresan satu pun. Berangkatlah ia ke bandara untuk berpesawat ria ke Bangkok. Namun, rencananya tak berjalan mulus karena selama lima hari Ketwig menderita kepanasan dan menunggu pesawat yang dijadwalkan ke Bangkok.
            Sesampainya di Bangkok, Ketwig benar-benar terpesona akan pemandangan eksotis yang tersaji. Saat menyerahkan laporan penugasannya di Thailand kepada sersan, dia dijanjikan lulus lebih cepat dari normalnya, sehingga akan cepat pula menyandang predikat warga sipil di negara asalnya. Lalu Ketwig diajak berjalan-jalan oleh seorang perwira menyusuri indahnya Thailand. Namun trauma di Nam membuat ia skeptis terhadap lingkungan sekitar, padahal keadaan Thailand aman-aman saja. Ia juga merapikan penampilan dekilnya dan kembali lagi pada sersan yang menantinya.
            Selama Ketwig di Bangkok ia ditempatkan di suatu barak. Barak itu menyajikan kemewahan dan kenyamanan yang tak ia dapat saat di Nam. Ia pergi ke klub bersama teman-teman barunya sebagai tanda bahwa ia benar-benar kembali dalam kehidupan normal. Namun ada yang aneh. Kejiwaan Ketwig sekarang sensitif. Beberapa menit yang lalu ia bisa tertawa, tapi sekarang menangis. Bahkan ketika ia tidur, begitu mendengar suara BOOOOM! Ia panik dan nampak sangat ketakutan, padahal itu hanya alarm untuk bangun tidur. Di Thailand ia juga masih dalam rangka bertugas, namun tugasnya tidak seberat di Nam. Tetapi ada segi baiknya hidup di Nam. Nam mengajarkan Ketwig harus berbuat yang benar atau tidak agar dapat bertahan, mengabaikan kekurangan rekan-rekan, dan yang terpenting tekanan itu menciptakan hubungan erat komunitas yang saling mendukung.
            Sudah lama Ketwig ingin kembali ke Pulau Penang untuk menemui gadis pemikat hatinya, Lin. Hingga saat itu tiba, ia berangkat dengan kereta. Sepanjang perjalanannya banyak warga (baik bocah maupun orang tua) berbondong-bondong datang ingin melihat sosok Ketwig. Setelah turun dari kereta, ia melanjutkan perjalanan dengan kapal feri. Di benaknya sudah ada bayangan manis Lin di Penang.
            Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Akhirnya ia bersama Lin, mereka berdua berjalan-jalan, bercerita, dan berkasih sayang. Walaupun sempat terjadi konflik sedikit, namun itu dapat teratasi. Dan beberapa hari kemudian datang memisahkan Ketwig dan Lin. Ketwig berjanji, secepatnya dia kembali lagi.
            Dalam perjalanan pulang, si petualang Ketwig bertemu beberapa orang Australia. Ia bergabung dan langsung akrab. Mungkin memang sifat Ketwig yang supel, ia selalu memiliki teman baru dari perjalanannya.
            Setibanya di Thailand, dia langsung mendapat promosi jabatan menjadi sersan E-5. Otomatis ia tidak dapat berkunjung ke klub yang diperuntukan para calon perwira. Ia pun menyewa kamar sendiri. Tiba-tiba ia merasa sejak di Nam ia merasa dingin dan kacau. Tapi saat bersatu dengan rakyat Thailand, ia merasakan bahwa kebahagiaan mereka di tengah-tengah kemiskinan adalah sesuatu yang berharga.
            Diceritakan pula bagaimana Ketwig bersama temannya menjadi beatlemaniak. Dan pada saat itu gelombang pasang musik menyebar ke setiap aspek kehidupan di Amerika, termasuk perang Vietnam. Thailand selalu memberikan pengalaman baru, Ketwig tergambarkan lebih peka terhadap keadaan sosial. Ia mudah berbaur dengan warga setempat, menjalani hubungan timbal-balik yang menguntungkan. Dia melakukannya semata-mata untuk kepentingan Amerika Serikat dan perdamaian di atas muka bumi.
            Moment yang membangkitkan kepiluan Ketwig adalah ketika ia, Stu (sahabat baru), dan Eht (teman wanita Stu) bertemu, melinting rokok ganja bersama, dan Eht melihat koran yang berisi berita bahwa Pleiku hancur parah dan sembilan orang Amerika tewas. Betapa terkejutnya si Ketwig. Stu yang tidak tau apa-apa secara lembut memaksa Ketwig menceritakan kepiluannya. Lalu Ketwig bercerita akan traumanya atas perang di Vietnam yang tak kunjung hilang, serta keinginannya untuk tidak pulang ke Amerika karena ia takut bertemu dengan teman-temannya yang akan terus-terusan menanyai pengalaman panjang Ketwig, begitu juga dengan streotip bangsa Amerika yang mengira kami adalah tentara yang sangat heroik dan tak terkalahkan. Apa jadinya bila mereka mengetahui yang sebenarnya.
Hasrat untuk mengunjungi Penang datang kembali. Semua peralatan sudah dipersiapkan, kemudian ia berangkat. Namun, petugas Thailand menyatakan bahwa visa Ketwig tidak lengkap sehingga ia harus membatalkan kepergiannya ke Penang. Visa itu harus diberikan oleh pemerintah Malaysia, dan memakan waktu tiga minggu. Ketwig kecewa, ia lalu menelepon Lin dan menjelaskan persoalan yang dihadapinya. Lin memahaminya tetapi menolak ketika Ketwig meminta dirinya untuk pergi ke Thailand menemui Ketwig dengan alasan tidak mendapat izin dari mama-san (yang menaungi beberapa pelacur sekitar Pulau Penang).
Untuk membunuh rasa kesepian, Ketwig akhirnya memutuskan berjalan-jalan ke kuil, pasar terapung, dan juga window shopping ke Rappasong. Thailan begitu sempurna memang, tapi sayang hanya kepuasan yang dangkal.
Ketwig segera bersiap untuk pulang ke Amerika dan mempersiapkan diri, walaupun sempat ada rekannya yang mencegah ia pulang kampung. Tetap saja, Ketwig belum mampu menutupi luka yang dialaminya selama menunaikan kewajiban militernya. Selalu ada tipe “pemerintah yang benar atau salah”, tuduh-tuduhan, dan pertumpahan darah. Inilah berita-berita dari Vietnam, angkatan perang dengan kerja budak itu menyebabkan muak, acuh tak acuh, dan sering teler.
Suatu malam Ketwig turun dari bus Thailand dan melihat semua orang berada di jalan, tapi tampak tenang dan damai. Saat dirinya mendekati teman Thai, mereka bangkit dan memberi ucapan selamat. Ketwig bingung. Ternyata, berita menayangkan bahwa ada orang Amerika yang pergi ke bulan. Ia-lah Neil Amstrong, melangkah ke permukaan bulan, mengucapkan pernyataan yang terkenal, dan menancapkan Amerika dan bendera tujuh puluh enam negara bebas, dan di antaranya adalah Thailand. Ini menjadikan orang Amerika diagungkan, dianggap sebagai sahabat oleh para Thai. Ketwig merasa bangga dan patriotisme karena di sinilah prestasi dapat dihargai.
Kemewahan dan komersialisme di dunia telah mengecilkan hati seorang Ketwig, dia merasa memerlukan tempat perlindungan di dalam batin yang paling dalam. Maka dari itu ia mengunjungi kediaman keluarga petani Thai. Hidup selama dua hari di sana dengan berbagai keterbatasan, tapi ia sangat dihargai. Betapa hal ini membahagiakan dirinya.
Penglaman-pengalaman selama dua tahun terakhir telah membentuk sosok Ketwig yang baru dan akan membangun petualangan baru di Amerika sana. Dalam benaknya masih saja terpikirkan, bagaimana teman-teman sekolahnya akan mempersepsi dirinya ketika bertemu. Apakah akan mencemoohkan karena mereka telah lulus kuliah dan sarjana sedangkan Ketwig hanyalah menjadi veteran perang Vietnam, atau mereka akan menghargai usaha  Ketwig yang heroik, pemberani, dan kuat.
Kepulangan Ketwig tertunda beberapa hari karena ia sakit. Hingga tiba saatnya ia meninggalkan kenangan kemiliterannya dan sampai di negara asalnya. Di sana ia disambut oleh keluarga. Mereka berpelukan, suasana mengharu-biru. Seketika itu, Ketwig segera lari ke kamar mandi, berganti pakaian dengan pakaian normal, dan membuang pakaian seragam serta atributnya ke tempat sampah dengan emosi.
Beberapa hari itu, Ketwig dan keluarga jalan-jalan ke kota. Membeli banyak kaset dan es krim. Pokoknya memanjakan Ketwig yang baru pulang bertugas. Suatu hari, ia mendapat surat dari Lin. Bukannya membawa senang, tapi yang ada hanya kabar buruk. Lin mengatakan bahwa dirinya tidak bisa meneruskan hubungan kasihnya dengan Ketwig. Lin pun akan pindah tempat dan melarang Ketwig menghubunginya lagi.
Hari demi hari dilewati Ketwig. Akhirnya ia mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya di bidak mekanik dan ia pun merasa kesepian sehingga butuh teman hidup. Terlintas di benaknya seorang wanita bernama Carolynn, temannya dahulu yang sering menyuratinya ketika bertugas. Carolynn lebih cantik daripada di foto dan lebih ramah daripada di surat. Tak menunggu waktu lama, Ketwig menyunting Carolynn.
Dekat dengan pernikahannya, perang berlanjut di Asia Tenggara maupun di negeri ini. Ketwig bosan dengan perang dan Carolynn dapat mengatasinya. Perekonomian sedang buruk, Ketwig mencari pekerjaan lain. Sementara itu Carolynn juga bekerja sangat keras dan mengalami keguguran. Tahun 1975 kehidupan lebih baik. Mereka mebangun rumah baru. Carolynn hamil lagi dan melahirkan seorang putra. Namun di pagi hari 14 Januari 1976, berita menggemparkan dari Carolyyn. Putra mereka meninggal saat tidur. Ternyata bayi itu mengidap Suddent Infant Death Syndrome (SIDS), diperkirakan penyebabnya adalah cacat genetika akibat rokok ganja. Tapi setahun kemudian Carolynn melahirkan anak perempuan dan tahun 1980 lahir putri yang kedua dengan normal. Mereka hidup bahagia, namun tetap saja tidak jauh dari peristiwa-peristiwa perang dan politik.
Empat belas tahun berlalu, ketwig membiarkan tangannya menari-nari di atas keyboard dan bercerita pengalamannya selama menjadi tentara. Upaya itu didukung Carolynn rupanya.
Pembunuhan warga sipil Amerika secara besar-besaran sangat mengerikan. Belum lagi dikejutkan dengan peristiwa 11 September 2001. Berbagai peristiwa besar disaksikan keluarga Ketwig. Pada awal Januari 1983 sekelompok cendikiawan dan analis mengadakan konferensi yang  berlangsung selama dua hari tentang “pelajaran dari Vietnam”. Baltimore Sun melaporkan, “ada perbedaan pendapat dan kritik, tetapi kurang menunjukkan emosi yang memilukan hati.” Sejauh setengah mil, seorang Veteran berdiri di depan dinding hitam dan tubuhnya menggigil... dan hujan lebat pun turun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Peran Humas di Pemerintahan?

Hubungan Masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) adalah fungsi manajemen yang membangun dan menjaga garis komunikasi antara organisasi dengan publiknya. Di salah satu pihak, humas harus mampu mengintegrasikan antara tuntutan publik atau lingkungan, dengan kebutuhan organisasi. Selain itu, humas juga berperan dalam membentuk opini publik atas pencitraan baik sebuah organisasi atau perusahaan. Peran humas begitu dibutuhkan dalam setiap instansi. Baik itu perusahaan swasta maupun instansi pemerintah. Sama-sama bekerja sebagai humas, belum tentu apa yang dipekerjakannya sama. Perbedaan mendasar dari humas perusahaan swasta dengan humas pemerintahan ialah apa yang dikomunikasikannya. Apabila humas perusahaan mengkomunikasikan citra atau produk perusahaan tersebut, maka humas pemerintahan mengkomunikasikan kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap rakyatnya. Adapun persamaan fungsi humas perusahaan dan pemerintahan, yaitu sama sama membangun dan menjaga citra positif.  ...

Veronica Guerin, Mengubah Dunia dengan Pena

            Film ini diangkat dari kisah nyata seorang jurnalis inspiratif, Veronica Guerin, yang juga dipakai untuk judul filmnya. Guerin, seorang jurnalis Sunday Independent Irlandia merupakan sosok wartawan teladan yang tangguh, ulet, pekerja keras yang merangkap  juga sebagai ibu rumah tangga dengan satu anak. Kebiasaan buruk Guerin ialah suka menyetir mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata sehingga membuat dirinya berulangkali ditilang polisi lalu lintas.             Veronica adalah seorang jurnalis yang menguak skandal gereja dan kasus kriminal lainnya. Tak heran jika ia diperhitungkan masyarakat. Karena kepedulian pada kotanya, ia beralih pada kasus maraknya pemakai narkoba di Irlandia. Veronica adalah satu-satunya wartawan yang mau mencoba membongkar tabir Irlandia. Karena sebelumnya tidak pernah ada yang mau meliput kondisi Irlandia, padahal semua tau bahwa pada 1994 Irlandia ...

Fenomena Smartphone

Seringkali terdengar selentingan bahwa dunia maya mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Sejalan dengan maraknya situs pertemanan, muncul juga fenomena smartphone . Wah, pastinya aktivis dunia maya amat sangat terbantu dengan kehadiran ponsel pintar ini. Gimana engga, mau update twitter/fb tinggal klik hahaha. Tapi, ada tapinya loh ya.. Coba liat deh kebiasaan anak muda zaman sekarang. Hang out di mall, duduk di satu meja rame-rame tapi semuanya sibuk mainin si smartphone-nya masing-masing. Duduknya sebelah-sebelahan, tapi gak ngomong, eh ngomongnya lewat mention -an twitter. Hmm.. Saya ngomong begini juga karena saya sempat merasakan kecanduan berlebih sama si smartphone dan aplikasinya yg bikin kita jadi aktivis dumay haha. orang tua saya sering marahin kalau lagi makan masih aja pegang HP. emang ganggu sih, tapi gak tahan kan kalo HP-nya kedap-kedip? hehe Solusi untuk mengurangi ketergantungan kita sama smartphone sih ya banyakin aja aktivitas yang bener-bener ny...